Contoh Desa Yang Menerapkan Agroforestri Di Lampung

Contoh Desa Yang Menerapkan Agroforestri Di Lampung. Jumlah penduduk, kebutuhan pokok dan kebutuhan akan lahan yang semakin meningkat, menyebabkan banyak terjadinya eksploitasi sumberdaya hutan, baik berupa lahan maupun tumbuhan.  Beberapa faktor tersebut, tentunya menjadi alasan bagi masyarakat yang berada di sekitar hutan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya dengan cara memanfaatkan sumberdaya yang terdapat di dalam hutan.  Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Supriadi dan Pranowo (2015) akibat semakin berkurangnya lahan pertanian, mendorong petani/masyarakat mencari lahan baru di kawasan hutan, sehingga memacu peningkatan jumlah penduduk yang berada di dalam maupun di sekitar kawasan hutan.


Maryanto dkk. (2014) di dalam penelitianya juga menyatakan bahwa pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan aktivitas ekonomi menyebabkan terjadinya tekanan terhadap lahan hutan, sehingga eksploitasi terhadap kawasan hutan yang berada di dekat pemukiman masyarakat tidak dapat terhindarkan.  Berdasarkan beberapa pernyataan di atas, sepertinya faktor-faktor yang telah disebutkan juga telah menyebabkan terjadinya perubahan kondisi tutupan lahan pada kawasan hutan yang dapat berpengaruh terhadap penurunan fungsi-fungsi dari Tahura itu sendiri.  

Berdasarkan kondisi tersebut tentunya masyarakat sudah seharusnya melakukan upaya-upaya dalam pengelolaan hutan untuk menjaga agar fungsi-fungsi dari  hutan tersebut tidak hilang.  Salah satu upaya pengelolaan hutan yang mungkin dilakukan oleh masyarakat yang berada di sekitar hutan, selain itu juga untuk meminimalisir kerusakan hutan adalah dengan dengan menerapkan sistem penanaman secara agroforestri.

Karena agroforestri adalah sistem pengelolaan lahan yang mengimplementasikan nilai ekologi dan ekonomi dengan tujuan pelestarian keanekaragaman hayati dan produksi pertanian dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup masyarakat (Widianto dkk. 2003).  Sehingga dalam pengelolaan tersebut selain masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya, fungsi-fungsi ekologi dari tahura tersebut masih dapat dipertahankan. 

Salah satu contoh pengelolaan hutan secara agroforestri yang dilakukan masyarakat yang terdapat di lampung antara lain seperti desa Desa Sumber Agung, Batu Putu, Talang Mulya, dan sungai langka dikarenakan letak desa-desa tersebut berbatasan langsung dengan kawasan taman hutan raya Wan Abdul Rachman.

jenis tanaman yang ditanam di lahan garapan mereka antara lain seperti karet (Hevea brasiliensis), petai (Parkia speciosa), alpukat (Persea americana), cengkeh (Eugenia aromatica), durian (Durio zibethinus), kemiri (Aleurites moluccana), cempaka (Michelia champaca), kelapa (Cocos nucifera), nangka (Artocarpus heterophyllus), tangkil (Gnetum gnemon), yang dikombinasikan dengan tanaman kakao (Theobroma cacao), kopi (Coffea arabica).

Selain manfaat ekologis yang dihasilkan dari penggunaan agroforestri ini, ternyata ada manfaat lain yang dapat dirasakan bagi masyarakat seperti dapat membantu perekonomian masyarakat. Hal tersebut juga diperkuat oleh pernyataan Winarni (2016) yang menyatakan bahwa strata tajuk lengkap yang terbentuk dari sistem agroforestri memberikan manfaat ekonomis dan ekologis yang penting bagi petani, salah satunya dapat memberikan pendapatan bagi petani melalui hasil-hasil komoditi non kayu.

Sebenarnya agroforestri ini sudah di terapkan oleh masyarakat-masyarakat yang menjadi petani di indonesia sejak dahulu, istilah agroforestri ini disebut juga dengan nama wanatani.

Sumber:
Supriadi, H. dan Pranowo, D. 2015. Prospek Pengembangan Agroforestri Berbasis Kopi di Indonesia. J. Perspektif. 14(2): 135−150.

Widianto, Hairiah, K., Suharjito, D., dan Sarjono, M. A. 2003. Fungsi dan Peran
Agroforestri. ICRAF. Bogor. 37 hlm.

Winarni, S., Yuwono, B. S., dan Herwanti, S. 2016. Struktur pendapatan, tingkat kesejahteraan dan faktor produksi agroforestri kopi pada Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung Batutegi. (Studi di Gabungan Kelompok Tani Karya Tani Mandiri). J. Sylva Lestari. 4(1): 1−10.


EmoticonEmoticon